Pengikut

Selasa, 21 Mei 2013

sepenggal pandangan keislaman tentang takdir, tanggung jawab, dan kebebasan


Islam sebagai agama telah lahir sekitar abad ke 6-7M. Firman tuhan dalam alquran mengatakan bahwa nabi Muhammad sebagai perwakilan dan perwalian kehadiran islam di muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik yang harus diikuti dalam setiap perbuatan baiknya. Bahkan sempat juga dikatakan oleh para mutakallimin dan kaum sufi bahwa nur (cahaya) Muhammad ini lebih dahulu daripada segala yang ada di alam semesta ini, oleh karena itu adanya Muhammad secara ontologism lebih mendahului segala sesuatu yang lain  yang membuat tuhan memilih Muhammad sebagai awal penciptaan materi (Matter).
Nabi Muhammad hadir ke hadapan kaum quraisy di kala bangsa arab sedang berada dalam posisi jahiliyah (kebodohan), segala kejahatan merajalela dan kebodohan bangsa arab pun terlihat melingkupi segala aspek kehidupannya, mulai dari keseharian, etika, moral, kepercayaan, politik, dan lain-lain. Semenjak kehadiran Muhammad sebagai nabi telah memberikan pencerahan dan upaya perbaikan segala aspek kehidupan bangsa arab secara perlahan-lahan namun pasti.
Muhammad berhasil hingga sepeninggalnya dari dunia ini, Muhammad telah meninggalkan dua warisan berharga kepada umat islam secara keseluruhan, yaitu quran dan hadis yang sifatnya fleksibel, dinamis, dan sesuai dengan fluktuasi zaman kapanpun dan sesuai dengan wilayah manapun. Kehadiran Muhammad sebagai perwakilan tuhan di kala hidupnya telah memberikan angin segar bagi segenap kebingungan bangsa arab khususnya dan kaum muslimin umumnya.
Ketika Muhammad hidup ia selalu menjadi sumber referensi pertama setelah al-quran, Muhammad menjadi sumber rujukan setiap persoalan kehidupan masyarakat, ketika ada umatnya yang kebingungan dengan pemaknaan al-quran maka Muhammad hadir untuk menjawab persoalan tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penanya di kala itu.

Latar Belakang
Tak semua permasalahan yang ada mampu terjawab oleh Muhammad, apalagi Muhammad hanyalah manusia biasa yang terikat oleh ruang dan waktu yang pula terbatas sebagai manusia sama seperti kita, Muhammad hidup oleh waktu yang telah ditentukan tuhan dan wilayah yang mampu ia jelajahi dengan tubuh manusianya disamping perjalanan spiritual atau rohaninya ke langit ke tujuh dalam peristiwa isra’ mi’raj.
Segala pertanyaan umat dapat dijawab di kala Muhammad masih hidup, tetapi setelah Muhammad wafat tentu saja meninggalkan segudang pertanyaan yang masih belum dijawab oleh Muhammad. Hal ini menyisakan segudang kebingungan hingga saat ini.
Tetapi Muhammad telah mewariskan al-quran dan hadis setelah sepeninggalnya, alquran yang penuh dengan bahasa kiasan yang banyak sekali ketidak mengertian didalamnya karna sifatnya yang penuh tafsiran, sedangkan warisan satu lagi yakni hadis selamanya tidak dapat dimaknai tekstual saja, karena setiap persoalan umat kala itu sesuai dengan kondisi yang meruang dan mewaktunya, hadis pun bersifat kontekstual dan juga penuh tafsiran.
Judul takdir allah tidaklah tepat dikarenakan sejauh pengetahuan penulis tuhan / Allah tidak memiliki takdir karena allah bukanlah makhluk, dan allah adalah pencipta dari segala makhluk  yang ada baik yang bergerak maupun tidak bergerak, yang hidup maupun yang mati.
Takdir Manusia
Persoalan takdir manusia menjadi persoalan dasar dari agama islam, manusia di lahirkan ke dunia dengan takdir yang telah ditentukan tuhan dari lauh mahfuz, permasalahan takdir juga menyangkut dengan qada baik dan qadar buruk yang akan didapat oleh manusia. Persoalan ini bahkan berasal dari rukun iman yang ke enam bahwa manusia harus mengimani adanya qada baik dan qadar buruk.
Ada yang menyebutkan takdir adalah nasib manusia, penulis coba artikan menurut pengetahuan penulis bahwa takdir adalah segala hasil akhir dari keseluruhan upaya manusia, bedanya manusia memahami nasib dari sudut pandang kemanusiaan dan takdir dari sudut pandang ketuhanan. Jadi takdir merupakan sesuatu yang tidak dapat dirubah lagi oleh manusia.
Menurut Wikipedia, takdir adalah ketentuan suatu peridtiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya. Dalam agama islam takdir merupakan bagian kekuasaan tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam rukun iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari quran. Secaraumum umat islam memaknai takdir sebagai sesuatu yang telah terjadi.
Takdir memiliki dua dimensi, pertama dimensi ketuhanan kemudian dimensi kemanusiaan. Dimensi ketuhanan merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam alquran yang meniformasikan bahwa allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan takdir.
Dimensi kemanusiaan dari takdir adalah bahwa tuhan memerintahkan manusia untuk dapat melakukan hal sebaik-baiknya terkait dengan apa yang ingin dicapainya.
Terkait dengan beberapa aliran ilmu kalam, aliran jabariyah mengatakan bahwa takdir seluruh makhluk ciptaan tuhan itu telah ada dan tidak dapat dirubah lagi karena tuhan menentukan seluruh tindak-tanduk ciptaannya, manusia diibaratkan bulu yang dihembuskan angin dan dibawa terbang kemana-mana, artinya ketika kaum jabariyah berbicara takdir mereka berbicara tentang seluruh kehendak tuhan yang diaplikasikan kepada manusia.
Kemudian aliran mu’tazilah jika berbicara takdir mereka berbicara sesuatu yang dinamis yang dapat mereka tentukan sesuai dengan seberapa besar kadar usaha dan ikhtiar mereka terhadap apa yang ingin mereka capai tersebut. Mu’tazilah lebih rasional dibanding dengan beberapa aliran ilmu kalam lain karena mereka lebih mengutamakan akal dibanding dengan teks yang tidak memiliki artian jika tak melalui proses rasionalisasi lebih dahulu.
Berbeda lagi dengan aliran asy’ariyah yang berpendapat bahwa takdir manusia itu sesuai dengan apa yang tuhan inginkan, hal ini jatuh kepada jabariyah yang mengatakan segala tindakan manusia itu berasal dari tuhan. Bedanya kaum asy’ariyah mengatakan manusia memiliki kebebasan untuk bertindak tapi kebebasan itu haruslah didukung oleh kuasa dari tuhan untuk melaksanakan hal tersebut. Artinya takdir menurut asy’ariyah dengan jabariyyah tidaklah jauh berbeda.
Kebebasan dan Tanggung Jawab Manusia
Aliran jabariyah dengan tokohnya Jahmbin Safwan, ia mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia bukan manusia yang mengadakan tetapi tuhan sendiri, baik gerakan refleksi atupun gerakan lain yang terlihat dikehendaki atau disengaja seperti berbicara,berjalan dan sebagainya. Karena manusia sebenarnya tidak mempunya pilihan dan kekuasaan sama sekali atas tindakannya.
Manusia tidak lain bagaikan bulu yang ditiup angin, tidak mempunyai gerak sendiri. Kalai tidak dikatakanmanusia tidak dapat berbuat, maka hanya lahirnya saja, karena manusia bagi kaum jabariyyah memang tidak memiliki kuasa sama sekali. Hal ini menjatuhkan posisi dan derajat manusia seperti tumbuhan bahkan lebih rendah dari hewan.
Aliran mu’tazilah membagi perbuatan manusia menjadi dua bagian, pertama perbuatan yang timbul dengan sendirinya seperti gerak refleksi, perbuatan ini tidak diadakan oleh manusia dalam artian terjadi karena tuhan. Kedua perbuatan bebas, dimana manusia bebas dan memiliki kuasa dalam melakukan pilihan antara mengerjakan dan tidak mengerjakan. Perbuatan seperti ini dinamakan kaum mu’tazilah sebagai khalq. Manusia daripada diciptakan tuhan karena adanya akal dan syariah.
Alasan rasionalnya adalah jika perbuatan itu diciptakan tuhan, seperti yang dikatakan jabariyyah, lalu apa gunanya perintah tuhan kepada manusia. Kemudian jika manusia tidak melakukan segala tindakan atas kuasanya maka siksaan atau surga tidaklah pantas untuk manusia.
Aliran Asy’ariyah pun membagi tindakan seperti mu’tazilah yaitu tindakan yang timbul dengan sendirinya dan perbuatan yang timbul karena kehendak. Dalam perbuatan yang dikarenakan kehendak, dikatakan manusia memiliki kuasa atas tindakannya tetapi kuasa atas tindakannya itu merupakan pemberian dari tuhan. Artinya sama saja aliran asy’ariyah mengatakan manusia tidak memiliki kuasa sendiri untuk melakukan tindakan yang sesuai keinginannya, tetapi kembali lagi kepada tuhan karena kuasa yang diberikan tuhan.
Kemudian aliran Al-Maturidiyah yang sependapat dengan imam abu hanifah yang menentang aliran mu’tazilah yang mengatakan bahwa manusia memilki kuasa untuk melakukan dua macam tindakan baik dan buruk. Bagi al-maturidiah selama manusia dijadikan tuhan maka tindakannya itu juga dijadikan oleh tuhan. Memang tindakan itu yang menggerakkan adalah manusia tapi yang menjadikan segala perbuatan itu ada adalah tuhan.
Aliran al-maturidiyah lebih dekat kepada aliran mu’tazilah dikarenakan rasionalisasinya. Jika maturidah mengatakan manusia mengerjakan pekerjaannya, tetapi kaum mu;tazilah mengatakan manusia menciptakan perbuatannya. Perbedaan ini hanya dalam kata-kata saja, yaitu sekitar penggunaan perkataan menciptakan (khalq), karena tidak ditentukan batasan pemakaiannya pada lingkungan tuhan maupun manusia oleh mu’tazilah.
Bagi ibnu rusyd, seorang filosof islam mengatakan adanya perlawanan antara dalil-dalil syariah dengan sebagian ayat al-quran yang menetapkan adanya ikhtiar(kuasa  manusia). Bahkan banyak didapati satu ayat berisikan klaim jabariyah maupun mu’tazilah secara bersamaan, ex: manakala kamu ditimpa bahaya sedang kamu telah mendapat kemenangan duakali lipatnya, lalu kamu katakan, “dari manakah datangnya bahaya ini? Katakanlah: datangnya daripada kesalahan kamu sendiri. Bahwasanya allah itu berkuasa pada tiap-tiap sesuatu” (ali imran, 165).
Perkataan “kamu tertimpa bahaya” menunjukkan adanya jetentuan (qadar) lebih dahulu sedang perkataan “datangnya daripada kesalahan kamu sendiri” jelas menggambarkan sebab kepada diri mereka sendiri.
            Begitupula hadis yang mengatakan, “tiap-tiap bayi dilahirkan atas keislaman, kemudian orang tuanya menjadikannya beragama yahudi, nasrani, atau majusi”. Hadis tersebut menetapkan adanya kekuasaan pada manusia. Disamping itu hadis lain yang menetapkan adanya jabariyah dan bahwa iman dan kafir telah ditakdirkan sejak dahulu yaitu: “mereka diciptakan untuk sorga dan amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan ahli sorga, dan sebagian mereka lagi diciptakan untuk neraka, amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan-amalan ahli neraka”
Demikianlah perlawanan antara dalil-dalil syariah, dalil-dalil akal fikiran juga berlawanan, sevagaimana disebutkan diatas. Perlawanan tersebutlah yang menyebabkan adanya perbedaan pendapat antara aliran mu’tazilah pada satu pihak dan di pihak lain jabariyah dan asy’ariyah. Perlawanan dalil-dalil tersebut memang disengajakan syariah. Demian dikatakan ibnu rsyd, agar orang-orang yang pandai bisa mencarikan pemecahan yang memuaskan.
Pemecahan tersebut memang hamper ditemukan mu’tazilah, ketika mereka mengatakan bahwa manusia diberi kekuasaan yang bisa dipakai untuk dua perbuatan yang berlawanan. Akan tetapi kekuasaan tersebut menurut ibnu rusyd tidak mutlak, sebagaimana yang disangkakan aliran mu’tazilah, tetapi bertalian juga dengan sebab-sebab lain yang ada diluar dirinya. Sebab-sebab tersebut adakalanya menolong kita mewujudkan pekerjaan, bisa juga menghalang-halangin, bahkan kadang-kadang memaksa kita mengambil perbuatan tertentu dan tidak bisa mengerjakan perbuatan lawannya, seperti perbuatan refleksi dan lainnya.
Disamping perbuatan-perbuatan refleksi tersebut, juga ada perbuatan-perbuatan yang bersifat pilihan/bebas. Karena kita dapat mempertimbangkan dua kemungkinan atau lebih,kemudian kita mengambil salah satunya. Perbuatan-perbuatan inipun tergantung berlangsungnya kepada sebab-sebab yang ada di luar diri kita. Apabila kita telah memilih perbuatan-perbuatan tertentu, maka kebebasan kita menjadi sempurna. Jadi sudah sepantasnya kalau ada perintah siksa dan pahala.
Menurut ibnu rusyd, paksaan yang mutlak adalah tidak mungkin, dan kebebasan yang mutlak oun tidaklah mungkin. Dengan mengambil jalan tengah antara kedua pendapat tersebut baru bisa didapatkan kebenaran, yaitu bahwa perbuatan manusia tidak semuanya bersifat kebebasan, tidak pula semuanya bersifat dipaka, tetapi tergantung kepada dua faktor utama, yaitu kehendak yang bebas yang dalam waktu yang sama bertalian dengan sebab-sebab di luar yang ada dalam alam dan yang berjalan mennurut hukum keharusan dan keseragaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar